Kementerian PKP Kebut Bedah Rumah di Jakarta, Targetkan 2.000 Unit Khusus Jaksel

Menteri PKP, Maruarar Sirait, meninjau langsung pelaksanaan Program Bedah Rumah di Manggarai, Jakarta Selatan. Mengusung semangat gotong royong, program ini menjadi angin segar bagi warga yang puluhan tahun menempati hunian tak layak.

01m0mr81jwjz34k747f3fepwza

Foto: Dok. Kementerian PKP

RubrikProperti.com – Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, mengunjungi langsung sejumlah warga penerima bantuan Program Bedah Rumah di kawasan padat penduduk Manggarai, Jakarta Selatan, pada Jumat (21 Agustus 2026).

Kunjungan taktis ini dilakukan guna memastikan eksekusi bantuan berjalan tepat sasaran sesuai rencana, sekaligus melihat dari dekat kondisi riil masyarakat prasejahtera yang menjadi penerima manfaat. Dalam blusukan tersebut, Menteri PKP turut didampingi oleh Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan, Syafrin Liputo, dan Camat Tebet, Putut Puji Linangkung.

Salah satu potret memilukan datang dari Nursyah, seorang penerima bantuan yang selama ini terpaksa tinggal bersama dua anggota keluarganya di dalam rumah yang luasnya hanya 7,2 meter persegi. Dengan penghasilan pas-pasan sekitar Rp300.000 per bulan, Nursyah harus bertahan di hunian dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.

Struktur bangunan rumahnya tidak memiliki kolom maupun ring balok penguat yang memadai, sementara rangka atapnya sudah dalam kondisi lapuk dan rapuh. Dinding rumah hanya mengandalkan anyaman bambu yang tidak kedap air, berlantaikan tanah basah, dan atap berbahan asbes yang telah rusak berat sehingga selalu bocor saat hujan tiba. Rumah tersebut juga belum tersentuh kelayakan sanitasi maupun sistem sirkulasi udara.

Baca Juga: Sinergi Lintas Kementerian dan Pengembang Kakap Bangkitkan Ekosistem Properti Nasional

Puluhan Tahun Menanti Hunian Layak

Kondisi serupa dialami oleh Ahmad Sukarelani, yang telah menempati rumahnya selama 59 tahun lamanya. Rumah warisan peninggalan orang tuanya tersebut kini harus berdesakan dihuni oleh empat kepala keluarga dengan total 24 jiwa di dalamnya. Ahmad, yang sehari-hari bekerja sebagai buruh harian lepas, hanya mengantongi penghasilan rata-rata sekitar Rp500.000 per bulan.

Rumah yang ditinggali Ahmad beserta keluarga besarnya ini mengalami kerusakan masif di berbagai sudut. Mulai dari fondasi dan sloof yang rapuh, ketiadaan kolom dan ring balok, hingga penyekat dinding berbahan tripleks tipis yang hancur tergerus air. Atap asbesnya telah hancur parah, diperburuk dengan minimnya pencahayaan alami dan sanitasi yang sangat buruk.

“Sudah 59 tahun saya tinggal di sini, ini peninggalan orang tua. Saya tinggal bersama adik-adik saya dan keluarga mereka, total ada 24 penghuni. Saya diajukan oleh pihak RT dan Alhamdulillah tidak dipungut biaya sepeser pun,” ujar Ahmad terharu.

Menariknya, kedua penerima bantuan di Manggarai ini juga mendapatkan dukungan swadaya berupa tenaga kerja tukang dari warga sekitar dalam proses perbaikan rumahnya. Menurut Maruarar Sirait (yang akrab disapa Ara), semangat gotong royong ini adalah bagian paling esensial dalam pelaksanaan Program Bedah Rumah. Masyarakat sekitar dapat ikut ambil peran sesuai kemampuan mereka, baik itu sumbangan tenaga, material bahan bangunan, maupun dukungan logistik.

“Di banyak daerah, tetangga ikut bergotong royong. Ada yang membantu dengan uang, tenaga, atau bahan bangunan. Ini adalah esensi kebersamaan dan semangat gotong royong yang harus terus kita rawat dan jaga,” kata Menteri Ara.

Baca Juga: Kementerian ATR/BPN Rilis 3 Layanan Baru: Ukur Tanah Terjadwal hingga Balik Nama Terintegrasi

Kuota Bedah Rumah Jakarta Naik Signifikan

Maruarar menegaskan bahwa pemerintah pusat terus menggenjot percepatan pelaksanaan Program Bedah Rumah, tak terkecuali di pusat wilayah perkotaan padat seperti Jakarta. Berdasarkan hasil pemetaan dan koordinasi intensif dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, tercatat masih ada sekitar 823 ribu unit rumah tidak layak huni di ibu kota yang membutuhkan penanganan mendesak.

Oleh karena itu, Kementerian PKP terus merajut koordinasi dengan pemerintah daerah di setiap lini—mulai dari tingkat provinsi, kota, kecamatan, hingga kelurahan—agar daya gedor program ini dapat berjalan masif dan tepat sasaran.

“Saya tadi sudah berkoordinasi dengan Pj Gubernur Jakarta. Kenyataannya masih banyak sekali rumah tidak layak huni di Jakarta, angkanya sekitar 823 ribu. Kita harus bekerja sama bahu-membahu dengan Pak Gubernur, wali kota, camat, hingga lurah. Saya lihat ritme untuk Jakarta Selatan sudah bagus dan cepat. Tapi saya minta agar lebih masif lagi, Jakarta Selatan minimal harus tembus 2.000 rumah,” instruksi Maruarar.

Demi memangkas birokrasi dan mempercepat pelaksanaan di lapangan, Kementerian PKP juga telah menerbitkan kemudahan regulasi melalui Permen PKP Nomor 6 Tahun 2026. Regulasi sapu jagat ini menyederhanakan berbagai ketentuan administratif guna mempercepat proses penyaluran bantuan, tanpa mengorbankan prinsip ketepatan sasaran dan tata kelola program yang bersih.

Proses pembangunan dan perbaikan fisik rumah penerima bantuan di kawasan Manggarai ini ditargetkan akan dimulai paling lambat pada 16 September 2026, dan dijadwalkan rampung total pada 16 November 2026.

Sebagai penutup, Maruarar menambahkan bahwa peningkatan alokasi Program Bedah Rumah untuk DKI Jakarta tahun ini sangat fantastis. Jika pada tahun-tahun sebelumnya jumlah bantuan di Jakarta belum pernah menyentuh angka 200 unit, pada tahun 2026 ini alokasinya meroket tajam menjadi 10.300 unit.

“Program ini adalah bukti sahih kehadiran negara. Kita ingin rumah-rumah warga yang reyot dan tidak layak huni bisa segera diperbaiki agar masyarakat dapat hidup dan tinggal dengan lebih aman, sehat, serta nyaman. Karena itu, kuota yang sudah dipatok besar ini harus kita pastikan terserap tuntas dan manfaatnya benar-benar sampai ke tangan rakyat kecil,” pungkasnya.