Kisah Jatuh Bangun Bos Triniti Land Tuangkan 33 Tahun Pengalaman Bisnis ke Dalam Buku
Perjalanan tiga dekade lebih di dunia bisnis dibentuk oleh berbagai titik balik ekstrem. Co-Founder & Group CEO Triniti Land, Ishak Chandra, menuangkan kisah jatuh bangunnya dari krisis 1998 hingga IPO ke dalam buku bertajuk Bermain di Papan Besar.
RubrikProperti.com – Perjalanan membangun bisnis tidak selalu dimulai dari kondisi yang ideal dan mulus. Bagi Ishak Chandra, perjalanan lebih dari tiga dekade di dunia profesional dan bisnis justru dibentuk oleh berbagai titik balik yang penuh liku.
Mulai dari pengalaman kehilangan seluruh harta benda saat krisis moneter 1998, tertipu hingga kehilangan uang warisan sang ibu, sampai akhirnya sukses membawa perusahaan yang dirintisnya melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Rangkaian perjalanan penuh emosi dan pembelajaran tersebut kini dituangkan oleh Ishak Chandra selaku Co-Founder & Group CEO Triniti Land (IDX: TRIN) melalui buku terbarunya yang berjudul Bermain di Papan Besar.
Buku ini bukan sekadar biografi standar atau kisah kesuksesan bisnis pada umumnya. Ishak menyebut karyanya ini sebagai bentuk sharing atas berbagai pengalaman jatuh bangun yang ia lalui hingga berhasil mencapai posisinya saat ini.
“Sebenarnya motivasi utamanya itu adalah sharing, bukan semata-mata cerita sukses. Tapi menceritakan bagaimana dan apa saja yang saya alami untuk mencapai hari ini. Jadi, ini seperti blueprint dari seorang Ishak Chandra yang berangkat dari titik minus, bukan hanya nol ya, hingga bisa jadi seperti hari ini,” ujar Ishak.
Keinginan untuk menulis buku ini sebenarnya sudah bersemayam sejak tiga tahun lalu. Namun, kesibukan korporasi yang padat membuat rencana itu tertunda. Momentum emas akhirnya tiba saat perayaan Lebaran tahun lalu, ketika ia memiliki waktu luang untuk mulai merajut ingatannya ke dalam bentuk tulisan. “Dari April kemarin, jadi ya sekitar lima bulan waktu penulisan,” kenangnya.
Baca Juga: Kementerian ATR/BPN Rilis 3 Layanan Baru: Ukur Tanah Terjadwal hingga Balik Nama Terintegrasi
Fokus pada Satu Keahlian dan Pahami Siklus Bisnis
Salah satu prinsip utama yang ditekankan Ishak dalam perjalanan bisnisnya adalah pentingnya fokus pada sektor yang benar-benar dikuasai (one sector).
Meski telah malang melintang selama 35 tahun berkecimpung di industri properti, Ishak menilai prinsip ini bersifat universal. Menurutnya, setiap industri pasti memiliki siklus naik dan turun, sehingga seorang pebisnis wajib memiliki pemahaman mendalam pada bidang yang dipilihnya.
“Ketika kita menekunkan suatu industri, industri apapun itu pasti ada fase naik dan turunnya. Maka yang perlu kita pelajari adalah fokus pada one sector yang kita kuasai. Dengan begitu, kita punya advantage yang jauh lebih besar,” tegasnya.
Bagi Ishak, fokus membuat seseorang memiliki daya pemahaman yang jauh lebih kuat, ketimbang mencoba masuk ke banyak sektor sekaligus tanpa penguasaan yang mumpuni.
“Karena kita fokus, kita sangat mengerti, daripada kita multi-sector yang akhirnya dikerjakan secara separuh-separuh,” tambahnya.
Pandangan ini menjadi sangat relevan ketika melihat dinamika sektor properti dewasa ini. Ishak menilai, pelaku usaha tidak cukup hanya melihat apakah pasar secara umum sedang naik atau turun. Selalu ada subsektor yang bertumbuh di tengah perlambatan pasar.
“Properti lagi turun, belum tentu semua sektor dan subsektor itu turun. Pasti ada yang naiknya. Kayak sekarang, properti lagi turun, lagi stagnant, tapi data center lagi naik. Logistik lagi naik. Jadi sebagai pebisnis, harus pandai melihat peluang,” anjur Ishak.
Baca Juga: BPS Rilis Statistik Perumahan 2026: Angka Backlog Kepemilikan Rumah Turun Signifikan
Perhatikan Momentum dan Regulasi Pemerintah
Selain faktor fokus, Ishak juga menyoroti krusialnya aspek momentum dalam menjaga pertumbuhan bisnis. Menurutnya, berbagai kebijakan insentif fiskal seperti Pajak Pertambahan Nilai (PPN) maupun subsidi tidak akan otomatis efektif apabila digelontorkan pada waktu yang kurang tepat.
“Saya selalu katakan bahwa insentif itu sangat tergantung momen. Kalau momennya tidak tepat, itu tidak bakal menstimulus juga. Jadi harus jeli cari momen,” ujarnya.
Di sisi lain, stabilitas politik dan dukungan regulasi pemerintah memegang peranan vital bagi sektor properti yang karakternya merupakan investasi jangka panjang (long term investment). Ketika kepastian hukum atau politik melemah, investor cenderung menahan modal. Namun, kebutuhan dasar dari konsumen akhir (end user) akan selalu ada.
Merangkum perjalanan hidupnya, Ishak membagi variabel bisnis menjadi dua kelompok: hal yang bisa dikendalikan dan hal di luar kendali. “Yang tidak bisa kita kontrol adalah government, politik, supply and demand. Tapi yang bisa kita kontrol adalah apa yang kita lakukan sendiri,” ucapnya.
Baca Juga: Sinergi Lintas Kementerian dan Pengembang Kakap Bangkitkan Ekosistem Properti Nasional
Dari Krisis 1998 hingga Melantai di Bursa
Buku Bermain di Papan Besar merangkum perjalanan karier Ishak selama 33 tahun sejak bergabung sebagai Management Trainee di Astra International pada 1991. Ia kemudian menghabiskan 13 tahun di Soewarna Business Park, delapan tahun di Sinar Mas Land, hingga akhirnya membangun Triniti Land bersama para mitra pendiri lainnya yang berujung pada aksi penawaran umum perdana saham (IPO) pada 15 Januari 2020.
Buku yang terbagi ke dalam 30 bab, tujuh bagian, dan memuat 12 prinsip hidup ini tidak berorientasi pada komersial pribadi. Ishak memutuskan untuk mewakafkan seluruh keuntungan penjualan buku guna mendukung program kemanusiaan Agent of Hope melalui Yayasan Sinergy Bangun Indonesia, yang fokus pada penyediaan beasiswa dan akses kerja bagi generasi muda.
Melalui karya ini, Ishak membuktikan bahwa bisnis bukan sekadar tentang selalu berada di industri yang sedang boom, melainkan tentang ketekunan memahami bidang yang dicintai, kepekaan membaca perubahan zaman, dan ketajaman menemukan peluang di tengah gelombang siklus ekonomi yang terus berputar.
