Industri Hotel Bali Masuk Era Baru, Pengalaman Wisata Jadi Kunci Persaingan
Pasar hotel Bali memasuki fase baru yang berfokus pada kualitas wisatawan dibanding kuantitas. Colliers mencatat investasi hotel mewah tetap tinggi meski persaingan destinasi regional semakin ketat
Foto: Dok. Travel Kompas
RubrikProperti.com – Pasar perhotelan Bali mulai memasuki babak baru. Jika sebelumnya pertumbuhan industri banyak ditopang oleh peningkatan jumlah wisatawan, kini pelaku industri lebih fokus menarik wisatawan dengan nilai belanja tinggi (high-value travelers) demi menjaga profitabilitas jangka panjang.
Laporan Hospitality Services Forecast Report Q2 2026 dari Colliers menunjukkan, meskipun pemulihan perjalanan internasional masih berlanjut, industri hotel di Bali menghadapi tantangan berupa ketidakpastian geopolitik global, kenaikan biaya perjalanan domestik, serta persaingan yang semakin ketat dari destinasi seperti Thailand, Vietnam, Jepang, dan Korea Selatan.
Meski demikian, investor tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang Pulau Dewata. Hal tersebut tercermin dari masih masifnya pembangunan hotel berbintang lima di sejumlah kawasan unggulan.
Sepanjang 2026 diperkirakan akan hadir sekitar 959 kamar hotel baru, sementara hingga 2029 rata-rata tambahan pasokan mencapai sekitar 596 kamar per tahun, dengan konsentrasi terbesar berada di kawasan Ubud dan Canggu. Tingkat okupansi hotel diproyeksikan tetap stabil di kisaran 63–65% sepanjang 2026, sedangkan tarif kamar rata-rata diperkirakan berada pada kisaran USD144–146.
Investasi Hotel Mewah Masih Mendominasi
Pada kuartal II-2026, Bali memiliki sekitar 62.000 kamar hotel setelah penambahan 197 kamar baru dan renovasi sementara 103 kamar di Six Senses Bali. Hingga 2029, sekitar 1.700 kamar hotel baru diproyeksikan masuk ke pasar dan seluruhnya berasal dari segmen hotel bintang lima.
Ubud dan Canggu menjadi magnet utama investasi, disusul Jimbaran, Uluwatu, serta Nusa Penida. Menurut Colliers, tren ini menunjukkan investor kini lebih memilih mengembangkan hotel premium yang menyasar wisatawan dengan pengeluaran tinggi dibanding mengejar pasar massal.
Operator internasional juga semakin agresif memperluas bisnisnya di Bali. Marriott International masih menjadi jaringan hotel dengan portofolio terbesar, sementara SONO Hotels & Resorts memperkuat ekspansi setelah mengakuisisi Cross Hotels & Resorts.
Persaingan Bergeser dari Jumlah Tamu ke Nilai Belanja
Colliers menilai, masa depan industri hotel Bali tidak lagi ditentukan oleh banyaknya wisatawan yang datang, melainkan kemampuan hotel menciptakan pengalaman menginap yang berbeda.
Wisatawan kini semakin mencari pengalaman yang lebih personal, mulai dari wellness tourism, wisata alam, kuliner, hingga aktivitas budaya lokal. Tren remote working dan perjalanan keluarga lintas generasi juga mendorong lama tinggal wisatawan menjadi lebih panjang.
Karena itu, operator hotel didorong untuk mengembangkan sumber pendapatan di luar penjualan kamar, seperti restoran, spa, aktivitas rekreasi, hingga pengalaman wisata yang dikurasi secara khusus.
Selain itu, Colliers mencatat pertumbuhan tarif kamar (Average Daily Rate/ADR) kini lebih kuat dibanding pertumbuhan okupansi. Kondisi tersebut menunjukkan banyak hotel mulai mengutamakan kualitas pendapatan dibanding sekadar mengejar tingkat hunian tinggi melalui diskon harga.
Ke depan, hotel yang mampu menghadirkan pengalaman autentik, layanan personal, konsep wellness, serta memperkuat posisi merek diperkirakan akan memiliki daya saing lebih tinggi dibanding hotel yang hanya mengandalkan penambahan jumlah kamar.
