RP – Harapan baru menyapa para penyintas bencana di Kabupaten Aceh Tamiang. Dua pekan pascabencana, Pertamina Peduli hadir menjawab persoalan paling krusial yang dihadapi warga: krisis air bersih dan layanan kesehatan.
Hingga Kamis (2/1/2026), Pertamina tercatat telah menyalurkan 1,7 juta liter air bersih dan mereaktivasi 12 sumur warga untuk memulihkan sanitasi di wilayah terdampak. Langkah ini menjadi titik balik bagi ribuan warga yang sebelumnya kesulitan mendapatkan air layak konsumsi.
Kisah Warga: Dari “Air Cappuccino” ke Air Bersih
Dampak bencana sempat memaksa warga hidup dalam keterbatasan ekstrem. Yanti, warga Kebun Tanah Kerban, Kecamatan Karang Baru, menuturkan bahwa sebelum bantuan datang, ia dan keluarganya terpaksa menggunakan air parit berlumpur untuk kebutuhan sehari-hari.
Baca Juga: Pecah Rekor! Penyaluran FLPP 2025 Tembus Angka Tertinggi Sepanjang Sejarah
“Sangat membantulah air bersih ini. Sebelumnya kami pakai air parit. Bantuan ini masuk sekitar dua minggu setelah kejadian, dan kami benar-benar terbantu,” ujar Yanti saat ditemui di lokasi distribusi.
Hal serupa diungkapkan Putera, warga setempat yang mengistilahkan air parit tersebut sebagai “Air Cappuccino” karena warnanya yang keruh dan cokelat pekat.
“Kalau kami menyebut air parit itu air cappuccino. Tapi mau bagaimana lagi? Begitu Pertamina kasih air masuk, Alhamdulillah, sekarang sudah bisa digunakan untuk semua keperluan,” ungkap Putera penuh syukur.
Distribusi Masif dan Pemulihan Jangka Panjang
VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa air bersih adalah prioritas utama dalam masa tanggap darurat ini. Sejak 4 Desember 2025, Pertamina mengerahkan 191 unit mobil tangki untuk mendistribusikan air secara bergilir ke rumah-rumah warga.
Namun, bantuan tidak berhenti pada distribusi sesaat. Baron menjelaskan bahwa Pertamina juga fokus pada solusi jangka panjang.
“Permasalahan air bersih masih dihadapi masyarakat, sehingga kami tidak hanya menyalurkan air, tetapi juga mengaktifkan kembali sumur-sumur warga agar akses air bersih dapat tersedia secara berkelanjutan,” jelas Baron.
Bekerja sama dengan Wanadri dan TNI, program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ini telah berhasil memulihkan 12 sumur di berbagai titik strategis, termasuk Desa Seumadam, Kejuruan Muda, Karang Baru, hingga Kota Kualasimpang.
Layanan Kesehatan 24 Jam
Selain krisis air, kesehatan warga juga menjadi perhatian utama. Pertamina Peduli mendirikan Posko Medis di Simpang Kantor Disdukcapil Aceh Tamiang yang bersiaga penuh selama 24 jam.
dr. Betty, relawan dokter dari Pertamina IHC Prabumulih, menyebutkan bahwa tim medis bekerja nonstop melayani keluhan warga yang muncul akibat kondisi lingkungan yang belum pulih total.
“Keluhan yang paling banyak kami temui pascabencana antara lain Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), batuk, pilek, diare, serta pasien penyakit kronis yang sempat terhenti pengobatannya,” terang dr. Betty.
Melalui integrasi bantuan air bersih dan layanan kesehatan ini, Pertamina berharap warga Aceh Tamiang dapat segera bangkit, memulihkan kondisi sosial, dan kembali beraktivitas dengan aman.

