Bukan Sekadar Infrastruktur, Kepercayaan Publik Jadi Kunci Ketahanan Tata Kelola Kota Cerdas
Menjawab tantangan tata kelola perkotaan di era digital, Cyfluence Research Center (CRC) resmi meluncurkan Urban Cyfluence Framework. Pendekatan baru ini mengintegrasikan infrastruktur fisik, sistem digital, dan kepercayaan publik untuk menjaga ketahanan kota.
Foto: Dok. Onlyyouqj/Magnific
RubrikProperti.com – Perkembangan era digital membawa tantangan baru bagi tata kelola wilayah perkotaan. Menjawab kebutuhan tersebut, Cyfluence Research Center (CRC) secara resmi memperkenalkan Urban Cyfluence Lab dan Urban Cyfluence Framework pada April 2026.
Inisiatif ini hadir sebagai pendekatan baru untuk memahami kompleksitas risiko perkotaan yang muncul dari interaksi antara infrastruktur fisik, sistem digital, dan kepercayaan publik.
Langkah ini dinilai krusial di tengah meningkatnya disinformasi dan gangguan digital. Melalui kerangka kerja ini, CRC menawarkan perspektif baru yang menghubungkan aspek fisik, digital, dan kognitif dalam perencanaan serta pengelolaan kota. Kehadiran framework ini diharapkan dapat menjadi dasar strategis bagi pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat luas untuk mengidentifikasi sekaligus memitigasi risiko perkotaan yang terus berkembang.
Director Urban Cyfluence Lab Cyfluence Research Center (CRC), Nur Mawaddah, menegaskan bahwa ancaman terhadap sebuah kota kini tidak lagi sekadar bersifat kasatmata.
“Kota saat ini tidak hanya menghadapi risiko pada infrastruktur fisik dan sistem digital, tetapi juga pada ruang persepsi dan kepercayaan publik. Urban Cyfluence Framework dikembangkan untuk membantu memahami bagaimana ketiga lapisan tersebut saling memengaruhi dan membentuk ketahanan kota di era digital,” ujar Nur Mawaddah di Jakarta.
Integrasi Tiga Domain Utama
Dalam implementasinya, Urban Cyfluence Framework secara tegas mengintegrasikan tiga domain utama, yakni physical (fisik), digital, dan cognitive (kognitif). Sebagai langkah nyata untuk kawasan Asia, CRC juga meluncurkan Urban Cyfluence Blueprint Volume 1 yang melibatkan kontributor dari 10 negara lebih di Asia.
Cetak biru (blueprint) ini dikembangkan sebagai seri publikasi regional yang ke depannya akan terus diperluas mencakup kawasan Oceania dan berbagai wilayah lainnya melalui kolaborasi lintas negara.
Kolaborasi Strategis Lintas Negara
Adapun kolaborasi strategis dalam penyusunan cetak biru ini turut menggandeng berbagai institusi dan organisasi ternama berskala nasional maupun internasional.
Beberapa pihak yang berkontribusi di antaranya adalah BRIN, BSSN, Binus University, Hubungan Internasional Universitas Indonesia, CISSReC, National University of Singapore, PR2Media, Facts Asia, University of the Philippines Diliman, Nguyen Tat Thanh University Vietnam, Doublethink Lab Taiwan, University of Tokyo, SPARKCITY Korea Selatan, Malaysia Cybersecurity Community Organization, hingga Universiti Tunku Abdul Rahman Malaysia.
