Presiden Direktur dan CEO PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) Anthony Prabowo Susilo (kanan) bersama Direktur INPP Surina memaparkan Business Outlook 2026 Paradise Indonesia di Jakarta

RP – PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP/Paradise Indonesia) terus memperkuat strategi pertumbuhan berkelanjutan dengan fokus pada intensifikasi aset eksisting, ekspansi ke kota-kota besar, serta penguatan recurring income. Perseroan menargetkan pertumbuhan dan profitabilitas double digit melalui pendekatan yang selektif dan terukur.

Presiden Direktur dan CEO Paradise Indonesia Anthony Prabowo Susilo mengatakan, INPP saat ini telah hadir di delapan kota besar, yakni Batam, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bali, Makassar, serta akan segera masuk ke Semarang dan Balikpapan. Seluruh pengembangan dijalankan melalui tiga lini utama, yaitu komersial, perhotelan, dan residensial, dengan konsep 4M: mixed-use development, mid scale, middle-up, dan major cities.

Recurring income kami cukup kuat untuk menopang bisnis yang berkelanjutan. Kami akan terus menjaga pertumbuhan double digit dengan mengintensifkan capex dan melakukan improvement aset,” ujar Anthony.

Paradise Indonesia menempuh strategi intensifikasi aset, berbeda dari pendekatan ekspansi lahan agresif. Sejumlah proyek yang telah dilakukan antara lain perluasan fasilitas spa di hotel Sheraton dengan wings tersendiri, penambahan meeting room di FX Sudirman, serta extension 23 Paskal Bandung yang meningkatkan net leasable area (NLA) sekitar 20 persen.

Baca Juga: Jurus Moncer Paradise Indonesia (INPP): Strategi ‘Kungfu’ dan Formula 4M Tanpa Landbank Raksasa

“23 Paskal bisa bertambah karena waiting list tenant mencapai dua hingga tiga tahun. Pasarnya sudah sangat mature, jadi penambahan mal memang justified,” jelas Anthony.

Di Balikpapan, INPP menyiapkan konsep mixed-use dengan CBD zone berkarakter mid to low density. Strategi ini diyakini mampu mendorong target double digit growth sekaligus double digit profitability.

Dari sisi penjualan properti, kinerja juga ditopang oleh Antasari Place. Dari total 980 unit, saat ini tersisa sekitar 70 unit, dengan 80 persen penjualan terjadi pada 2025 yang didorong insentif PPN DTP. INPP pun mulai merencanakan pembangunan tower kedua Antasari Place.

Perseroan juga mencatatkan penguatan struktur pendanaan melalui penerbitan obligasi pada awal 2025, yang dilanjutkan dengan kerja sama strategis bersama Hankyu Hanshin. Untuk pembiayaan proyek, skema yang digunakan adalah 30:70, dengan 70 persen berasal dari perbankan, terutama Bank Central Asia.

“Setiap penjualan satu dolar berdampak sekitar dua hingga tiga dolar ke recurring income kami,” tambah Anthony.

Direktur INPP Surina menyampaikan, meski belum diaudit, kinerja sembilan bulan tahun 2025 telah menyamai capaian sepanjang 2024. Hingga September 2025, pendapatan perseroan tercatat sebesar Rp1,3 triliun.

Baca Juga: Mengintip Antasari Place: Hunian Elit Modern di Jantung Jakarta Selatan

Kontribusi pendapatan berasal dari segmen komersial sebesar 33 persen, perhotelan 36 persen, dan property sales 31 persen. Pada 2024, capex mencapai Rp1 triliun seiring pembangunan Antasari Place dan proyek Semarang. Sementara untuk tahun berjalan, capex disiapkan sekitar Rp400 miliar yang difokuskan pada ekspansi dan renovasi produk eksisting.

“Tahun ini kami optimistis bisa tumbuh 20–30 persen,” ujar Surina.

Masuknya INPP ke Semarang dinilai strategis, mengingat kota tersebut diproyeksikan menjadi commercial hub Jawa Tengah dalam 10 tahun ke depan. Proyek yang semula dirancang dengan net leasable area 37 ribu meter persegi kini ditingkatkan menjadi 48 ribu meter persegi seiring tingginya minat pasar.