RP – Ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kembali meningkatkan ketidakpastian ekonomi global. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran mengenai potensi dampaknya terhadap berbagai sektor, termasuk pasar properti di Indonesia.
Head of Research Services Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menilai konflik di Timur Tengah tidak serta-merta berdampak langsung terhadap aktivitas transaksi properti di Indonesia. Namun, sektor ini tetap sensitif terhadap perubahan kondisi makroekonomi dan sentimen pasar.
“Secara langsung konflik di Timur Tengah tidak menghentikan transaksi rumah atau apartemen di Indonesia. Namun sektor properti sangat sensitif terhadap stabilitas makroekonomi dan sentimen jangka panjang,” ujar Ferry.
Menurut dia, dampak konflik lebih mungkin terjadi melalui beberapa jalur transmisi ekonomi seperti harga energi, inflasi, nilai tukar, dan suku bunga.
Baca Juga: Ramadan 1447 H, PLN Beri Diskon 50% Tambah Daya Hingga 7.700 VA
Tekanan Inflasi dan Nilai Tukar
Ferry menjelaskan bahwa eskalasi konflik berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia, terutama jika jalur distribusi energi global terganggu. Kondisi ini dapat memicu tekanan inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
“Jika harga energi naik dan inflasi meningkat, bank sentral biasanya mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Hal ini akan memengaruhi sektor properti karena mayoritas pembelian rumah masih bergantung pada skema Kredit Pemilikan Rumah atau KPR,” jelasnya.
Selain itu, ketidakpastian global juga berpotensi memicu aliran dana keluar menuju aset safe haven seperti emas atau dolar AS. Kondisi tersebut dapat melemahkan nilai tukar rupiah.
Pelemahan kurs akan berdampak pada biaya material impor yang banyak digunakan dalam proyek bangunan bertingkat, seperti elevator, façade system, dan sistem Heating, Ventilation, and Air Conditioning (HVAC).
“Proyek high-rise biasanya lebih sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar dibanding rumah tapak karena proporsi material impornya lebih besar,” kata Ferry.
Baca Juga: Menteri Ara Targetkan Huntap Bisa Dihuni Sebelum Lebaran 2026
Sentimen Investor dan Strategi Pengembang
Menurut Ferry, dalam kondisi ketidakpastian global pasar properti biasanya memasuki fase wait-and-see. Investor cenderung menunda ekspansi, sementara konsumen menunda keputusan pembelian.
Dalam situasi tersebut, pengembang biasanya akan lebih berhati-hati dalam meluncurkan proyek baru dan fokus pada penjualan stok yang sudah tersedia.
Namun proyek yang telah memasuki tahap konstruksi umumnya tetap berjalan untuk menjaga arus kas dan kredibilitas perusahaan.
Ferry menambahkan, beberapa segmen properti dinilai lebih sensitif terhadap kondisi ketidakpastian ekonomi global, seperti apartemen kelas menengah atas yang banyak dibeli investor serta pengembang dengan tingkat leverage tinggi.
Sebaliknya, rumah tapak yang dibeli untuk kebutuhan hunian atau end-user driven cenderung lebih resilien karena permintaannya didorong kebutuhan dasar.
Dampak Diperkirakan Tidak Berkepanjangan
Ferry menilai selama konflik tidak berkembang menjadi krisis energi global berkepanjangan, dampaknya terhadap pasar properti Indonesia kemungkinan bersifat moderat dan sementara.
“Selama konflik tidak memicu lonjakan harga energi secara ekstrem, dampaknya terhadap pasar properti Indonesia kemungkinan terbatas dan temporer,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sentimen pasar berpotensi pulih apabila tensi geopolitik mereda dalam waktu relatif singkat.
Baca Juga: Menteri PU Tinjau Huntara Waskita di Aceh Utara Jelang Lebaran
“Segmen properti yang berbasis kebutuhan hunian biasanya lebih stabil karena permintaannya didorong kebutuhan dasar, bukan spekulasi,” kata Ferry.

