Foto: Dok. Kadin

RP – Di tengah momentum kunjungan resmi Presiden RI Prabowo Subianto ke Jepang, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menggelar Indonesia-Japan Strategic Partnership Forum bertema “Indonesia-Japan Value Co-Creation: Building the Future of Energy, Industry, and Global Supply Chains” di The Imperial Hotel, Tokyo, Senin (30/3/2026).

Forum ini diselenggarakan Kadin Indonesia bersama Japan External Trade Organization (JETRO), Ministry of Economy, Trade and Industry (METI) Jepang, serta Japan Business Federation (Keidanren), berkolaborasi dengan KBRI Tokyo, Japan Chamber of Commerce and Industry (JCCI), Japan Indonesia Association (Japinda), serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM RI.

Forum yang dihadiri langsung Presiden Prabowo ini bertujuan untuk mempertegas dan memperdalam kerja sama ekonomi strategis, khususnya di sektor prioritas seperti energi hijau dan terbarukan, infrastruktur dan konektivitas, manufaktur, ekonomi digital, serta ketahanan pangan dan energi.

Baca Juga: Anindya Bakrie Kukuhkan Pengurus Kadin Kaltim 2025–2030 di IKN

Selain itu, forum ini juga diarahkan untuk mengidentifikasi peluang investasi konkret yang bankable, dengan memanfaatkan kerangka kerja sama seperti revisi Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA), momentum World Expo Osaka 2025, serta kemitraan komprehensif dan strategis kedua negara.

Dalam pidato kunci, Presiden Prabowo menegaskan bahwa Jepang merupakan mitra yang sangat penting bagi Indonesia. Hubungan ekonomi kedua negara telah terbangun selama puluhan tahun dengan kontribusi signifikan dari perusahaan-perusahaan Jepang di berbagai sektor.

“Jepang secara konsisten mendukung pembangunan ekonomi Indonesia. Banyak di antara Anda di ruangan ini telah menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Anda telah lama berada di Indonesia. Anda mengenal Indonesia dengan baik masyarakatnya, pasarnya, budayanya, dan potensinya,” ujar Presiden Prabowo.

Presiden Prabowo juga menyampaikan bahwa kehadirannya di forum tersebut bukan hanya untuk melanjutkan kemitraan yang telah terjalin, tetapi juga untuk mendorongnya ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih cepat.

Baca Juga: Hadir di Rapimnas 2025, Menteri PKP Maruarar Sirait Apresiasi Langkah Kadin Renovasi Rumah Rakyat

“Saya hadir di sini bukan hanya untuk melanjutkan kemitraan yang sudah ada, tetapi untuk mendorongnya ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih cepat. Dunia semakin mengecil. Tidak ada pilihan lain selain kerja sama erat di semua bidang. Saya percaya hubungan ekonomi dan kemitraan yang kuat akan menghasilkan perdamaian dan persahabatan yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengatakan bahwa meskipun hubungan Indonesia dan Jepang telah terjalin panjang, tantangan ke depan menuntut langkah yang lebih progresif, terutama untuk mendorong Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).

“Indonesia harus keluar dari middle income trap. Dan salah satu caranya ialah dengan investasi dan inovasi supaya pertumbuhan bisa lebih daripada sebelumnya,” kata Anin.

Ia juga menyoroti pentingnya ketahanan dan adaptasi dunia usaha di tengah ketidakpastian global, termasuk dampak konflik geopolitik yang mempengaruhi perekonomian dunia.

“Kita mengerti dan sensitif bahwa saat ini kita fokus bergerak di tengah dinamika global. Namun kami yakin masih ada jalan. Ini juga menjadi hal yang bisa dibicarakan antara kedua negara untuk berkembang lebih baik lagi,” ujarnya.

Ketua Komite Bilateral Jepang Kadin Indonesia Muhammad Lutfi menambahkan bahwa hubungan Indonesia-Jepang ke depan perlu terus diarahkan pada penguatan investasi.

Baca Juga: Sinar Mas Land Raih Best ESG-Focused di Global Brand Awards 2026

“Kemitraan Indonesia–Jepang ke depan harus terus mendorong investasi menuju value co-creation yang konkret, di mana kolaborasi industri, energi, dan rantai pasok global secara langsung akan mendorong pertumbuhan, inovasi, dan daya saing Indonesia,” pungkas Lutfi.

Dalam kesempatan tersebut, sejumlah nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) strategis turut diumumkan di hadapan Presiden RI Prabowo Subianto. Kerja sama tersebut mencakup berbagai sektor, mulai dari energi, industri, hingga keuangan dan teknologi dengan total nilai perdagangan kedua negara yang mencapai sekitar 23,6 miliar dolar AS.

Hadir dalam forum tersebut sejumlah pejabat dan pelaku industri, antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM RI sekaligus CEO Danantara Rosan P. Roeslani, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Bahlil Lahadalia, Menteri Luar Negeri RI Sugiono, serta jajaran pengurus Kadin Indonesia dan mitra strategis lainnya.