Antasari Place: Hunian cerdas yang menyatukan konektivitas, efisiensi ruang, area ritel, dan hamparan hijau yang luas di tengah kota

RP – PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) atau Paradise Indonesia terus menunjukkan performa gemilang pasca-pandemi. Perusahaan pengembang properti yang dikenal dengan portofolio hotel dan mal ini mencatatkan rekor pertumbuhan pendapatan (omzet) secara berturut-turut dari tahun 2022 hingga proyeksi 2025.

Presiden Direktur & CEO INPP, Anthony Prabowo Susilo, mengungkapkan bahwa total aset perusahaan kini telah mencapai Rp15 triliun dengan 26 proyek yang tersebar di berbagai wilayah.

“Bisa dikatakan 4 tahun terakhir capaian kita record breaking omzet terus. Semester pertama tahun 2025 pendapatan kita mencapai Rp870 miliar, naik 57 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu,” ujar Anthony dalam keterangannya.

Tahun ini, dengan kontribusi dari proyek teranyar Antasari Place, perusahaan menargetkan sekitar 70 persen pendapatan akan berasal dari penjualan properti. Adapun pada semester pertama tahun 2025, komposisi pendapatan perusahaan tercatat berasal dari penjualan (38 persen), segmen hotel (32 persen), dan pusat perbelanjaan atau mal (30 persen).

Fokus Ekspansi di Kota-Kota Besar

INPP tengah mempersiapkan sejumlah proyek strategis, khususnya di Balikpapan dan Semarang. Anthony menjelaskan bahwa perusahaan akan meluncurkan proyek low density development berupa ruko di Balikpapan pada kuartal pertama tahun depan.

“Fokus ke depan Semarang dan Balikpapan. Semarang baru fase satu, fase duanya kita ada lahan 2 hektare lagi di sampingnya. Balikpapan juga fase satu dari 8 hektare, kita baru jalan 3 hektare,” jelas Anthony. Selain itu, INPP juga membidik satu kota lagi di wilayah Indonesia bagian barat sebagai kota ke-9 dalam portofolio mereka.

Di Antasari Place, pengembangan fase kedua juga tengah dipersiapkan. “Saat ini ada tiga lokasi yang secara paralel mempersiapkan fase lanjutan. Selain itu, kami juga sedang menggarap satu kota baru di wilayah barat, yang akan menjadi kota kesembilan,” imbuhnya.

Andalkan Recurring Income

Kunci stabilitas keuangan INPP terletak pada strategi pendapatan berulang (recurring income). Untuk diketahui, recurring income bagi suatu korporat adalah arus pendapatan berulang dan stabil yang diterima perusahaan dalam periode tertentu. Biasanya secara bulanan, kuartalan, atau tahunan, dari sumber yang sifatnya kontinu dan tidak bergantung pada transaksi sekali saja.

Dalam konteks bisnis, recurring income termasuk strategi sustainability revenue karena menciptakan pendapatan predictable, konsisten, dan jangka panjang.

Tak pelak, Anthony menegaskan pihaknya berambisi untuk menjaga porsi recurring income di angka 80 persen yang bersumber dari sewa mal, hotel, dan perkantoran.

“Membangun dengan porsi recurring income yang tinggi itu lebih bisa diprediksi. Naik-turunnya tidak fluktuatif. Secara pendapatan berulang kita naik 8-10 persen, dan sampai akhir tahun total kinerja bisa berkembang double digit dibanding tahun lalu,” tutup Anthony.