RP – Di tengah ketatnya persaingan industri properti, PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) berhasil membuktikan diri sebagai pengembang yang tangguh meski tidak berangkat dari kepemilikan lahan raksasa.
Anthony Prabowo Susilo, Presiden Direktur & CEO INPP yang merupakan generasi kedua kepemimpinan perusahaan, menekankan bahwa kekuatan utama Paradise Indonesia terletak pada mindset jangka panjang, kreativitas, dan reputasi.
Dalam mengembangkan proyeknya, INPP memegang teguh formula “4M” yakni Middle up, Mid-size, Mixed-use, dan Major city. Anthony menjelaskan bahwa perusahaan lebih memilih skema kemitraan strategis atau joint venture untuk mengoptimalkan aset daripada menimbun tanah.
“Kita developer yang lahir bukan dari landbank besar. Kita garap proyek per proyek, bermitra, dan kita selesaikan dengan segala tantangan. Investor melihat keunikan Paradise, bagaimana bangun recurring asset tanpa butuh modal terlalu besar di muka,” ujar Anthony.
Salah satu bukti kesuksesan strategi ini adalah penyelesaian proyek Antasari Place di tengah pandemi, yang menjadi bukti komitmen perusahaan terhadap konsumen. Sebelumnya, perusahaan juga sukses membuka proyek Harris Tuban pasca tragedi bom Bali. “12 Oktober bom Bali, 19 Oktober proyek ini dibuka. Jadi kami tidak asing dengan tantangan,” ungkapnya.
Sebagai generasi kedua, menurut Anthony, dirinya bukan diwariskan aset besar melainkan mindset dan perjuangan yang gigih. Oleh karenanya, seluruh proyek besutan Paradise Indonesia tidak ada yang berjalan secara sederhana dan straight forward.
“Selalu dari kita bermitra, berjalan, ada meleset sedikit di luar rencana kita bereskan dan optimalkan. Jadi saya rasa kita sudah di kategori bisa mencapai goal meski 3-4 tahun terlambat. Misal tadinya harus tercapai di tahun 2021, tapi tiba-tiba ada pandemi, jadi tertunda,” ia menjelaskan.
Filosofi ‘Kungfu’ Keuangan
Anthony juga mengibaratkan pengelolaan keuangan perusahaan yang semakin canggih seperti seni bela diri. Jika dulu perusahaan hanya mengandalkan modal sendiri atau pinjaman bank, kini INPP telah “naik kelas” dengan instrumen yang lebih beragam seperti obligasi dan pasar saham.
“Kalau Kungfu ada jurus macan, jurus harimau, tapi ini bagaimana kita atur ‘chi’ di dalam tubuh. Perputaran uang itu kita atur seperti mengatur pernapasan. Keberadaan investor bikin kita naik kelas dengan berbagai jurus, jurus modal sendiri, jurus pinjaman bank, jurus saham, dan jurus obligasi,” paparnya.
Ia melanjutkan, “Setiap jurus itu punya tantangan sendiri-sendiri dan buat saya itu yang bikin kita naik kelas. Dulu pakai modal sendiri paling gampang, kita kontrol sendiri. Sedangkan kalau pinjam bank, kita bangun reputasi agar tidak kesulitan dapat financing. Lalu untuk saham, kita pelan-pelan belajar perkenalkan diri, Paradise itu siapa, bagaimana, dan akhirnya mulai dikenal.”
Dengan model bisnis Business to Business to Customer (B2B2C), INPP terus membangun reputasi yang solid. Anthony percaya bahwa di era sekarang, konsumen tidak hanya melihat lokasi dan harga, tetapi siapa pengembang di balik proyek tersebut.
“Reputasi itu penting. Profitabilitas dan omzet itu satu hal, tapi yang paling berharga yang diwarisi adalah mindset dan reputasi,” ia menambahkan.
Prinsipnya, dalam membangun INPP tidak pernah berpikir jangka pendek, semuanya selalu berorientasi jangka panjang. Jika produk belum optimal, maka tugas pengembang adalah terus menyempurnakannya. Tak heran dalam konteks saat ini, reputasi menjadi faktor yang sangat penting.

