Menteri PKP Apresiasi Peran BTN: Penyaluran KPP Tertinggi Dorong UMKM Naik Kelas

BTN salurkan Kredit Program Perumahan (KPP) senilai Rp7,4 triliun. Menteri PKP apresiasi peran strategis perbankan dalam mendorong UMKM perumahan naik kelas.

Berita---Rumah-PKP

Foto: Dok. BTN

RubrikProperti.com – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) terus memperkuat komitmen nyatanya dalam mendukung implementasi Kredit Program Perumahan (KPP).

Langkah strategis ini ditempuh guna memperluas akses pembiayaan di sektor perumahan, sekaligus mendorong pemberdayaan pelaku usaha rantai pasok dan menggerakkan roda perekonomian rakyat.

Sejak program KPP resmi diluncurkan, BTN mencatat total penyaluran pembiayaan secara kumulatif telah mencapai Rp7,4 triliun. Angka impresif tersebut terbagi ke dalam dua lini utama:

  • KPP Supply: Sebesar Rp5,4 triliun.
  • KPP Demand: Sebesar Rp2,0 triliun.

Melalui kedua skema terintegrasi tersebut, pembiayaan yang disalurkan mampu menjangkau sisi penyediaan hunian oleh pelaku usaha, sekaligus menjawab kebutuhan finansial masyarakat produktif yang mendambakan kepemilikan maupun renovasi rumah.

Direktur Corporate Banking BTN, Helmy Afrisa, menjelaskan bahwa KPP memiliki instrumen peran yang sangat strategis lantaran mampu menyasar dua pilar ekonomi secara simultan.

“Melalui KPP Supply dan KPP Demand, BTN berupaya memperluas akses pembiayaan di seluruh ekosistem perumahan. Kami ingin program ini tidak hanya mendorong penyediaan hunian, tetapi juga meningkatkan produktivitas pelaku usaha dan pada akhirnya menggerakkan ekonomi rakyat,” ujar Helmy dalam acara Sosialisasi Kredit Program Perumahan di Menara BTN, Jakarta, pada Jumat (11 September 2026).

Dari sisi penyediaan (supply), KPP dapat dimanfaatkan secara fleksibel oleh pelaku usaha dengan rincian ketentuan plafon sebagai berikut:

  • Plafon hingga Rp5 miliar: Dapat diakses oleh developer (pengembang), kontraktor, hingga pedagang bahan bangunan.
  • Plafon hingga Rp500 juta (KPP Demand): Dikhususkan bagi pelaku UMKM perorangan guna membeli, membangun, maupun merenovasi rumah yang sekaligus difungsikan untuk mendukung kegiatan produktif usahanya.

Helmy menambahkan, ruang pertumbuhan KPP di masa mendatang masih terbuka sangat lebar. Sebagai contoh, di wilayah Jabodetabek saja, BTN mencatat adanya minat (peminatan) sebanyak 353 calon debitur dengan total nilai plafon mencapai Rp424,944 miliar, yang terdiri atas 57 peminatan KPP Supply senilai Rp288,970 miliar serta 296 peminatan KPP Demand senilai Rp135,974 miliar.

Baca Juga: Libatkan PPAT hingga Pemda, Ini Kunci Sukses Layanan PERINTIS 10 Hari Kementerian ATR/BPN

Menteri PKP Dorong UMKM Naik Kelas

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, memberikan apresiasi tinggi atas akselerasi penyaluran KPP yang dinilai sangat efektif menjadi instrumen penggerak agar pelaku UMKM dalam ekosistem perumahan bisa naik kelas.

“Manfaat program ini sangat luar biasa. Dari sisi supply, subsidi bunganya sangat membantu. Mudah-mudahan, sesuai tujuannya, UMKM—baik itu kontraktor, developer, maupun toko bangunan—bisa naik kelas,” ujar Menteri yang akrab disapa Ara tersebut.

Maruarar mengungkapkan, meskipun KPP tergolong program baru, respons yang ditunjukkan oleh pasar dan perbankan sangat luar biasa positif. Tingginya angka penyerapan secara nasional bahkan telah mendorong pemerintah untuk menaikkan kuota plafon KPP dari Rp36 triliun menjadi Rp50 triliun. Secara khusus, ia juga memuji performa BTN yang menjadi motor penyerapan KPP Supply tertinggi.

“Programnya boleh baru, belum sampai setahun, tetapi ternyata responsnya sangat positif. Penyerapan sangat tinggi, makanya kuotanya dinaikkan dari Rp36 triliun menjadi Rp50 triliun. Dari sisi supply, BTN itu paling tinggi,” puji Maruarar.

Menurutnya, ukuran keberhasilan KPP tidak boleh berhenti sekadar pada angka besar dana yang sukses digelontorkan. Lebih dari itu, program ini harus mampu melahirkan kisah sukses di mana pelaku UMKM bertransformasi menjadi pengusaha skala besar.

“Kita baru bisa merasa bangga kalau 10 atau 15 tahun lagi, UMKM yang kita temui hari ini mengatakan, ‘Waktu itu saya masih UMKM kecil, tetapi satu dekade kemudian saya sudah naik kelas menjadi perusahaan besar yang sukses’,” pesan Maruarar menginspirasi.

Ia kembali mengingatkan bahwa sektor perumahan memiliki efek ganda (multiplier effect) yang masif terhadap perekonomian nasional. Aktivitas pembangunan tidak hanya menghidupkan bisnis pengembang dan kontraktor, tetapi juga menyerap jutaan tenaga kerja, mendongkrak industri manufaktur bahan bangunan, hingga menghidupkan warung-warung kecil di sekitar lokasi proyek.

Baca Juga: Urus Sertipikat Tanah Makin Cepat Lewat Program PERINTIS, Masyarakat Rasakan Manfaat Langsung

Menutup arahannya, Menteri PKP mendorong BTN untuk terus menjaga etos kerja tinggi dan konsisten melahirkan terobosan kreatif. Tercatat sepanjang Januari hingga 9 September 2026, penyaluran KPP BTN sendiri telah berhasil membukukan angka Rp5,25 triliun dari target tahunan sebesar Rp10 triliun.

“Targetnya besar, harapannya besar. Kerjanya juga harus besar, hatinya besar, jiwanya juga besar bagi Republik dan rakyat Indonesia,” pungkas Menteri Ara.