RP – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mencatatkan kinerja positif sepanjang periode sembilan bulan yang berakhir pada September 2025. Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 2,3 triliun, atau tumbuh 10,6% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu (Rp 2,08 triliun).
Kinerja ini ditopang oleh pertumbuhan kredit, peningkatan signifikan dana pihak ketiga (DPK), dan perbaikan efisiensi operasional. Capaian tersebut juga berhasil mendorong total aset BTN menembus Rp 510,85 triliun, naik 12,2% yoy dari posisi Rp 455,10 triliun pada September 2024.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, dalam keterangannya (23/10) menyatakan pencapaian ini adalah hasil konsistensi dalam menjaga pertumbuhan bisnis, terutama di pembiayaan sektor perumahan, yang ditopang prinsip kehati-hatian.
Efisiensi Jadi Kunci Pertumbuhan Laba
Pendorong utama laba BTN adalah Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) yang melonjak 43,5% yoy menjadi Rp 12,76 triliun. Hal ini terjadi karena pendapatan bunga kredit (naik 18,8%) mampu tumbuh lebih cepat dibandingkan kenaikan beban bunga (hanya naik 2,5%).
Kenaikan beban bunga yang terjaga stabil ini merupakan hasil dari upaya perseroan menggenjot perolehan DPK berbiaya murah.
Perbaikan ini berdampak langsung pada Net Interest Margin (NIM) yang naik signifikan sebesar 101 basis poin (bps) ke level 3,9% dari sebelumnya 2,9%. Efisiensi juga terlihat dari Cost-to-Income Ratio (CIR) yang membaik, turun ke level 47,8% dari posisi 59,9% tahun lalu.
DPK Melesat 16%, Didorong Transformasi Digital
Dari sisi pendanaan, DPK BTN tumbuh 16,0% yoy menjadi Rp 429,92 triliun. Pertumbuhan ini tercatat melampaui rata-rata pertumbuhan DPK industri perbankan nasional yang sebesar 11,18% per September 2025.
Pertumbuhan DPK ditopang oleh kenaikan deposito ritel berbiaya rendah dan dana murah (CASA) yang porsinya hampir separuh dari total DPK.
Transformasi digital melalui superapp balé by BTN menjadi salah satu motor pendorong dana murah. Hingga kuartal III-2025, jumlah pengguna (user) balé melonjak 66,8% menjadi 3,2 juta, dengan jumlah transaksi meroket 96,0% menjadi 1,53 miliar kali.
“Inisiatif digital ini terus meningkatkan kepercayaan masyarakat,” ujar Nixon, seraya menambahkan bahwa sumber dana murah ini akan menjadi kekuatan baru BTN untuk menjadi bank transaksional.
Penyaluran Kredit Stabil, Likuiditas Membaik
Di sisi intermediasi, kredit dan pembiayaan BTN tumbuh positif 7,0% yoy menjadi Rp 381,03 triliun. Sektor perumahan masih menjadi dominator utama, dengan total penyaluran kredit mencapai Rp 322,53 triliun (naik 6,4%).
Pertumbuhan ini dirinci dari:
- KPR Subsidi (FLPP): Tumbuh 8,0% yoy menjadi Rp 186,58 triliun.
- KPR Non-Subsidi: Tumbuh 7,3% yoy menjadi Rp 111,33 triliun.
Nixon menyebut peningkatan kuota FLPP dari pemerintah menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan kredit subsidi.
Dengan pertumbuhan dana yang lebih kencang dibandingkan kredit, rasio likuiditas perseroan membaik. Loan-to-Deposit Ratio (LDR) BTN berada di level 88,6%, lebih ideal dibandingkan periode yang sama tahun lalu di level 96,0%.
BTN Syariah Siap Spin-off dengan Aset Rp 68 Triliun
Menjelang proses spin-off menjadi Bank Syariah Nasional (BSN), Unit Usaha Syariah (UUS) BTN juga menunjukkan kinerja solid. Aset UUS BTN tumbuh 18,4% yoy menjadi Rp 68,36 triliun.
Pertumbuhan aset ini didukung oleh pembiayaan yang naik 19,7% (Rp 51,10 triliun) dan perolehan DPK syariah yang meningkat 19,3% (Rp 56,90 triliun). Laba bersih UUS BTN sendiri tercatat sebesar Rp 592 miliar, tumbuh 8,4% yoy.
Sumber: btn.co.id

