Lebih dari Sekadar Proyek Rumah, Program Gentengisasi Bawa Multiplier Effect bagi Perajin Daerah
Menteri PKP dan Mendagri kebut program gentengisasi untuk proyek perumahan. 500 ribu genteng dari UMKM Plered siap dikirim 2 Oktober 2026.
Foto: Dok. Kementerian PKP
RubrikProperti.com – Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, memastikan kesiapan penuh pelaksanaan program ‘gentengisasi’ yang berpusat di kawasan Plered, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
Persiapan matang ini mencakup kesiapan kapasitas perajin, standardisasi mutu produk (SNI), hingga eksekusi pengiriman perdana sebanyak 500 ribu genteng menggunakan 125 armada truk yang dijadwalkan meluncur pada 2 Oktober 2026.
Kepastian tersebut disampaikan dalam pertemuan koordinasi lintas sektor yang digelar di Gedung A Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta Pusat, pada Selasa (29 September 2026). Rapat ini turut dihadiri oleh Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian; Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman; Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein; dan Bupati Majalengka, Eman Suherman.
Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan bahwa pelaksanaan gentengisasi ini merupakan langkah konkret pemerintah dalam menindaklanjuti arahan Presiden Prabowo Subianto. Program ini bertujuan mendorong pemanfaatan material lokal sekaligus menghidupkan kembali denyut sentra produksi genteng di daerah.
“Bapak Presiden mendorong program penggunaan genteng lokal. Pak Menteri PKP telah melakukan langkah-langkah nyata untuk merealisasikan arahan dari Bapak Presiden mengenai gentengisasi ini,” ujar Tito.
Baca Juga: Kawal Serapan Rumah Subsidi di Daerah, Maruarar Sirait Minta Pemda Gratiskan BPHTB dan PBG
Tingkatkan Kualitas UMKM Demi Multiplier Effect
Di sisi lain, Menteri PKP, Maruarar Sirait, menyoroti bahwa gentengisasi tidak hanya berfokus pada pemenuhan material untuk program perumahan nasional semata, melainkan juga menjadi mesin penggerak bagi pemberdayaan perajin lokal.
Oleh karena itu, peningkatan kapasitas produksi UMKM harus selalu diiringi dengan pembinaan peningkatan kualitas dan pemenuhan standar produk.
“Yang kita mau adalah memberdayakan UMKM, tetapi kualitasnya di-upgrade dulu, ditingkatkan. Jadi ada multiplier effect-nya (efek berganda). UMKM-nya jalan, kualitas produknya juga semakin baik dan andal,” papar sosok yang akrab disapa Ara tersebut.
Kementerian PKP sejatinya telah memulai inisiasi awal program ini di Purwakarta dan Majalengka sejak enam bulan lalu. Awalnya, pemerintah menemukan bahwa mayoritas perajin belum mengantongi sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI). Merespons hal tersebut, Pemprov Jawa Barat bersama jajaran Pemkab setempat langsung turun tangan melakukan pembinaan dan uji keandalan agar perajin memenuhi spesifikasi proyek negara.
Baca Juga: Pullman Jakarta Central Park Gelar Pullman HUB Vol. 2, Ada Promo Stay hingga Wedding Expo
Rincian Distribusi Plered dan Majalengka
Melalui pembinaan intensif tersebut, pemerintah telah menyiapkan dua gelombang pengiriman genteng berskala masif dari dua sentra utama di Jawa Barat:
1. Sentra Plered, Purwakarta (Pengiriman 2 Oktober 2026)
- Volume Pengiriman: 500 ribu genteng menggunakan 125 armada truk.
- Pemberdayaan: Melibatkan 14 perajin lokal.
- Kualitas: 4 perajin telah memiliki sertifikat SNI, sementara 10 perajin lainnya telah lolos uji keandalan ketat.
2. Sentra Majalengka (Pengiriman 8 November 2026)
- Volume Pengiriman: 2,4 juta genteng menggunakan 600 armada truk.
- Pemberdayaan: Melibatkan 45 perajin lokal.
- Kualitas: 34 perajin telah mengantongi SNI, dan 11 lainnya lolos uji keandalan.
Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, menyatakan bahwa pemerintah daerah telah memvalidasi langsung kesiapan produksi di lapangan. Ia berharap pembinaan ini mampu membangun ekosistem bisnis hulu-hilir yang berkelanjutan.
“Rencana berikutnya, kami akan dorong ini ke dalam format ekosistem yang terintegrasi, sehingga antara supply (pasokan) dan demand (kebutuhan) bisa bertautan secara langsung,” terang Herman.
Potensi pasar yang menanti perajin lokal ini sejatinya sangat raksasa. Herman membeberkan bahwa kebutuhan genteng khusus untuk program Bedah Rumah di wilayah Jawa Barat saja ditaksir mencapai sekitar 15 juta unit. Angka fantastis tersebut bahkan belum mencakup kebutuhan dari program perumahan nasional lainnya.
Untuk mendukung peningkatan kapasitas produksi yang agresif tersebut, pemerintah juga memfasilitasi para perajin UMKM agar mendapatkan kemudahan akses pembiayaan melalui lembaga perbankan seperti BRI dan Bank Jabar (bjb).
Melalui strategi kolaboratif ini, Kementerian PKP optimis seluruh kebutuhan material program perumahan dapat tersuplai penuh dari sentra produksi daerah, sekaligus menaikkan kelas UMKM perajin genteng Nusantara.
