Anthony Prabowo Susilo, Presiden Direktur & CEO PT Indonesian Paradise Prooperty Tbk. (INPP)

RubrikProperti.com — Paradigma pusat perbelanjaan atau mal di Indonesia telah bergeser secara radikal. Bagi PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) atau Paradise Indonesia, fungsi mal modern tidak lagi sekadar menjadi tempat untuk bertransaksi jual beli barang, melainkan telah bertransformasi menjadi ruang interaksi sosial.

Melihat fenomena ini, INPP terus memperkuat langkah strategisnya dalam mengembangkan kawasan berbasis lifestyle destination (destinasi gaya hidup) sebagai bagian dari transformasi bisnis korporasi jangka panjang.

Menciptakan Destinasi, Bukan Sekadar Tempat Belanja

Presiden Direktur dan CEO Paradise Indonesia, Anthony Prabowo Susilo, menekankan bahwa masyarakat urban saat ini semakin selektif. Mereka tidak lagi mencari komoditas, melainkan mencari pengalaman, interaksi, serta atmosfer kawasan yang mampu memberikan nilai tambah emosional.

Baca Juga: Strategi Paradise Indonesia: Fokus Kembangkan Hotel yang Terintegrasi dengan Kawasan Lifestyle

“Kunci sukses dari pusat perbelanjaan kami adalah keberhasilan dalam menciptakan destinasi, bukan sekadar membangun tempat belanja konvensional,” ungkap Anthony Prabowo Susilo.

Strategi ini diwujudkan lewat pengembangan proyek-proyek berkonsep mixed-use (kawasan terpadu). Di dalam ekosistem ini, INPP merajut fungsi hotel, ritel, hiburan, kuliner, hingga residensial secara terintegrasi sehingga kawasan tersebut tetap hidup hampir sepanjang hari. Portofolio destinasi gaya hidup ini telah tersebar di kota-kota besar seperti Jakarta, Bali, Makassar, dan Yogyakarta.

Rahasia Tumbuh Tanpa Beban Landbank Lewat Formula “4M”

Salah satu hal yang paling membedakan Paradise Indonesia dengan pengembang raksasa lainnya adalah efisiensi aset mereka. Di saat banyak emiten properti berlomba-lomba menimbun cadangan lahan (landbank) dalam jumlah masif yang berisiko membebani likuiditas, INPP justru bergerak dengan lincah lewat pendekatan khusus.

Anthony menjelaskan bahwa perusahaan memiliki formula sukses yang dinamakan “4M”, yaitu:

  1. Middle Up: Membidik segmen pasar masyarakat kelas menengah ke atas yang memiliki daya beli solid dan resisten terhadap gejolak ekonomi.
  2. Mid-size: Mengembangkan proyek dengan skala ukuran medium yang lebih mudah dikelola, efisien secara biaya, namun memiliki dampak visual dan fungsional yang kuat.
  3. Mixed-use: Mengintegrasikan berbagai fungsi properti dalam satu kawasan untuk saling mendukung arus pengunjung (cross-traffic).
  4. Major City: Fokus membangun hanya di kota-kota besar utama yang sudah memiliki pertumbuhan ekonomi matang.

“Kami lebih memilih fokus pada kualitas proyek dan bagaimana menghadirkan pengalaman kawasan yang bernilai tinggi, bukan sekadar melakukan ekspansi landbank secara masif,” tambah Anthony.

Baca Juga: Anthony Prabowo Susilo: Kunci Sukses Mal Paradise Indonesia Adalah Menciptakan Destinasi, Bukan Sekadar Tempat Belanja

Pendapatan Berulang (Recurring Income) Makin Kokoh

Melalui eksekusi formula “4M” tersebut, INPP terbukti mampu menjaga pertumbuhan bisnisnya secara berkelanjutan (sustainable). Struktur keuangan perusahaan juga dinilai lebih stabil berkat kontribusi pendapatan berulang (recurring income) yang tebal dari sektor hotel dan komersial.

Untuk menggenjot pertumbuhan berikutnya, Paradise Indonesia kini tengah bersiap mengoperasikan proyek komersial teranyarnya, yaitu 23 Semarang. Proyek ini diproyeksikan akan menjadi salah satu mesin pencetak pendapatan baru yang potensial bagi perusahaan.

INPP tetap optimistis bahwa konsep lifestyle destination memiliki masa depan yang sangat cerah di Indonesia, seiring dengan karakteristik masyarakat urban yang semakin menghargai konektivitas kawasan dan kualitas pengalaman hidup.