RubrikProperti.com – CEO PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP), Anthony Prabowo Susilo, memperkenalkan inovasi terbaru perusahaan melalui proyek 88 Plaza Balikpapan. Nama “88” dipilih bukan tanpa alasan; proyek ini menandai ekspansi perusahaan ke kota kedelapan, berdiri di atas lahan seluas 8 hektar, dengan bentuk site kaveling yang menyerupai angka 8. Menariknya, proyek ini menjadi model operasional baru bagi Paradise Indonesia dengan sistem pembangunan bertahap senilai Rp100-150 miliar per tahap, yang terbukti sangat proporsional dengan daya serap pasar lokal.
Menurut Anthony, keberhasilan sebuah proyek properti sangat bergantung pada ketepatan perhitungan capital dan lahan (land). Dalam pengembangan mal, kuncinya adalah kesehatan para tenant yang memiliki cara pandang jangka panjang (long term thinking). Contoh nyata terlihat pada proyek 23 Semarang, di mana perusahaan melakukan tinjauan ulang dari rencana awal 30 ribu meter persegi menjadi 48 ribu meter persegi net saleable. Perhitungan yang kuat ini membuahkan hasil dengan tercapainya komitmen tenant hingga 80 persen bahkan sebelum mal resmi dibuka. “Kreativitas harus terus dikembangkan untuk menjadi daya tarik bagi tenant,” jelas Anthony.
Baca Juga: Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Ini Pendorongnya!
Resiliensi Sektor Hospitality dan Konsep Destinasi
Di sektor perhotelan, Anthony memberikan catatan penting mengenai segmentasi pasar. Ia mengamati bahwa hotel di segmen bintang 3 ke bawah menjadi yang paling terdampak oleh kondisi ekonomi. Sebaliknya, portofolio hotel mewah INPP, seperti Hyatt, justru mencatatkan kinerja tertinggi. Dari total 13 hotel yang dimiliki, hanya dua hotel yang berada di segmen bintang tiga, sehingga performa perusahaan secara keseluruhan relatif tidak terpengaruh secara signifikan. Meski demikian, Anthony mengakui bahwa pemulihan hotel segmen menengah masih menjadi pekerjaan rumah bagi industri hospitality.
Optimisme Paradise Indonesia dalam membangun mal di tengah situasi yang menantang juga didorong oleh perubahan perilaku konsumen. Perusahaan berkeyakinan bahwa masyarakat kini lebih mencari destinasi yang menawarkan leisure ketimbang sekadar tempat belanja. Buktinya, meski dalam kondisi krisis, area kafe dan restoran di unit seperti fX Sudirman tetap ramai pengunjung. Dengan menghadirkan pengalaman dan menjadikannya sebagai destinasi, Paradise Indonesia yakin bahwa aktivitas belanja akan mengikuti dengan sendirinya (at the end they will shop). Strategi adaptif inilah yang menjadi fondasi utama Paradise Indonesia dalam menjaga pertumbuhan jangka panjangnya.
